Rejang Lebong – Kasus anak cacingan ditemukan di Kabupaten Rejang Lebong. Seorang bocah berusia 5 tahun bernama Fikri Al Bukhori, warga Desa Tanjung Beringin, Kecamatan Curup Utara, harus menjalani perawatan intensif di RSUD Rejang Lebong setelah diduga mengalami cacingan.
Fikri dirujuk ke RSUD Rejang Lebong pada Kamis (2/10/2025) pagi, setelah sebelumnya diantarkan oleh petugas kesehatan Puskesmas Kampung Delima. Sang anak mengalami demam tinggi selama hampir sepekan dan kondisinya tidak kunjung membaik.
Menurut keterangan ibunya, Titin Sumarni, kesehatan Fikri mulai menurun sejak enam hari terakhir. Selain demam, bocah ini juga mengalami gatal-gatal di tubuh. Lebih mengejutkan, saat buang air besar, Fikri mengeluarkan cacing berwarna putih.
“Kesehatannya turun, gatal-gatal, dan waktu buang air besar keluar cacing sebesar rokok, warnanya putih sampai takut melihatnya,” ujar Titin kepada wartawan.
Menurutnya, cacing yang kelaur bersamaan dengan feses nya tersebut audah kali ketiga namun dengan jarak waktu yang berjauhan.
Titin juga menuturkan, meski Fikri rutin mengikuti posyandu dan pernah diberi obat cacing.
Sementara itu, Plt Direktur RSUD Rejang Lebong, Nova Friska Elianti melalui Kasi Pelayanan, Wendra Aprizal, membenarkan adanya rujukan pasien tersebut. Fikri langsung ditangani oleh dokter spesialis anak di UGD, kemudian disarankan untuk menjalani rawat inap.
“Kondisi pasien saat ini dalam keadaan stabil, masih diawasi oleh dokter spesialis anak untuk penanganan lebih lanjut. Diagnosa sementara adalah infeksi bakteri pada saluran pencernaan dan suspek cacingan. Namun, untuk memastikan, pasien akan menjalani pemeriksaan lanjutan termasuk uji laboratorium,” jelas Wendra.
Pihak rumah sakit memastikan Fikri akan terus mendapatkan pengawasan medis intensif hingga kondisinya membaik.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, Fikri merupakan anak dari pasangan Titin Sumarni dan Kulia. Ia mengalami stunting dan kondisi disabilitas, di mana sejak kecil belum bisa berjalan dan berbicara seperti anak seusianya. Faktor keterbatasan ekonomi keluarga juga diduga memperlambat penanganan medis terhadap kondisi kesehatannya.(Izk21)

















