Oleh : Agustam Rachman, Pendaki Gunung, Menetap di Yogyakarta.
Waktu menunjukkan pukul 11.00 siang (Senin, 05/09/2022) didepan gedung DPRD Provinsi Bengkulu, seorang Pemuda dengan lantang pidato berapi-api didepan massa menyerukan penolakan kenaikan BBM oleh rejim Jokowi-Makruf.
Sejam kemudian mereka berhasil “memaksa” anggota dewan diantaranya Usin Abdisyah, Edwar Samsi, Tantawi Dali, Erna Sari Dewi, Jonaidi SP dan Sujono untuk ikut menanda-tangani dan setuju atas tuntutan para demonstran.
Pemuda itu adalah Ketua KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia) Daerah Bengkulu. Dia biasa dipanggil Ricki, anak tertua pasangan Khairul Wasni dan Misriana, lahir di desa Tenam Bungkuk Muara Enim, Sumatera Selatan pada 02 Oktober 1998.
Ketika berumur dua tahun Ricki dibawa orang tuanya ke daerah perkebunan kopi yang disebut Bengko di Rejang Lebong. Dapat dibayangkan bagaimana situasi Bengko saat itu yang sangat terkenal banyak perampokan disertai pembunuhan.
Ricki menghabiskan sekolahnya di SD 04 Bengko, SMP 1 Sindang Dataran dan SMU 1 Curup. Ketika tamat SMU tahun 2016 ada dua pilihan yang disyaratkan orang tuanya jika ingin kuliah. Masuk Fakultas Hukum atau Kedokteran.
‘dua hal itu yaitu akses keadilan dan akses kesehatan yang sangat sulit didapat oleh rakyat’, Khairul Wasni berpesan.
Lewat persiapan dan belajar siang- malam Ricki diterima di Fakultas Hukum Universitas Bengkulu pada tahun 2016.
“Sementara soal Fakultas Kedokteran, saya melupakannya karena dengan profesi orang tua yang hanya petani kecil dengan lima anak membuat saya berat untuk kuliah disana’, ujar Ricki.
MENJADI AKTIFIS KAMPUS
Awal kuliah dia membaca buku ‘Soe Hok-Gie, Sekali Lagi’ terbitan KPG (Kepustakaan Populer Gramedia) yang tebalnya 512 halaman.
Sejak itu muncul tekad untuk jadi aktifis seperti Soe Hok-Gie yang kritis seperti dikisahkan dalam buku itu.
“Karena Soe Hok-Gie aktifis pencinta alam maka saya putuskan masuk Mahupala (Mahasiswa Hukum Pencinta Alam) Universitas Bengkulu dan sempat menduduki posisi sebagai Sekretaris Umum’, ujar lelaki yang sering diminta untuk mengaji dalam acara-acara di Fakultas ini.
‘Mahupala Universitas Bengkulu terkenal sangat solid, tentu dengan modal soliditas itu akan banyak hal positif yang dapat kami sama-sama buat’, tambahnya.
Diluar kampus, Ricki aktif di organisasi Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia Daerah Bengkulu dan sekarang menjabat sebagai ketua.
Saya sempat heran, kenapa bisa Ricki yang berlatar pencinta alam yang identik dengan ‘ketidak-teraturan” dapat menjadi ketua organisasi KAMMI yang terkenal puritan itu.
Dari namanya saja sudah tidak ‘berbau Arab’ tidak seperti ketua KAMMI Bengkulu sebelum Ricki seperti Ahmad Handoyo, Faisal Harist atau Aditya Mustafa yang namanya ‘berbau Arab”.
‘Makna nama Ricki Pratama Putra itu adalah diharapkan kelak saya jadi anak pertama yang ahli, mumpuni atau ulung”, ujar lelaki yang dalam setahun membaca sedikitnya delapan judul buku diluar buku soal hukum ini.
‘Saya ingin menjadi Advokat atau Dosen’ demikian jawaban Ricki ketika ibunya menanyakan.*

















