Jalan Rusak, Puluhan Pelajar Harus Berkubang Ke Sekolah Di Kecamatan Tanah Pinem Dairi

Erasatu.id- Perjuangan puluhan pelajar dari Desa Kempawa, Desa Lau Primbon dan Desa Kuta Gamber Di Kecamatan Tanah Pinem Kabupaten Dairi Provinsi Sumatera Utara harus berkubang lumpur untuk meraih cita cita. 3 desa yang berada di perbukitan tersebut dikenal warga sekita dengan sebutan wilayah Tenggiring.

Perjalanan kurang lebih berjarak 12 KM dari kampung menuju SMA Negeri Di Kuta Buluh yang merupakan kota kecamatan Tanah Pinem penuh resiko karena kondisi jalan telah mengalami kerusakan cukup parah dan tak jarang pada musim penghujan jalan sulit dilalui karena sering terjadi longsor.

Jesica Debora Sembiring, warga Lauperimbon yang tengah duduk dibangku kelas 1 SMA Negeri Kuta Buluh harus bangun jam 5 pagi untuk persiapan berangkat ke sekolah. Ia bersama teman temanya pada pukul 6 pagi sudah harus menumpang mobil untu berangkat ke sekolah di Kuta Buluh.

” Kalau cuaca lagi bagus, perjalanan ke sekolah bisa ditempuh dalam waktu 1 jam. Kita masih sempat istirahat sebentar sebelum masuk ke kelas pada puku 7:30 WIB,” kata Jesica

Namun pada musim penghujan, para pelajar wilayah tenggiring ini harus berkubang lumpur untuk menuju sekolah. Bahkan bahaya juga ikut mengintai karena kondisi jalan menjadi licin. Tak jarang pelajar yang menggunakan motor harus terjatuh.

” Kalau hujan, biasanya ada saja longsor di sepanjang jalan sehingga kita harus berjalan kaki karena mobil tidak bisa melintas. Bagi kawan kawan yang menggunakan motor terpaksa harus didorong agar bisa lewat. Kita tetap berusaha pergi ke sekolah Meski harus terlambat, biasanya sebelum sampai ke sekolah kita telah menghubungi wali kelas agar diijinkan tetap belajar setelah sampai disekolah,” ungkap Jesica

Perjuangan harus berkubang juga harus dialami siswa SD. Sebanyak 26 siswa SD warga dusun Kuta Nangka Desa Kempawa setiap hari harus berjalan sejauh 2 KM menuju sekolah di desa Kempawa. Kondis jalan yang dilalui juga penuh kubangan pada musim penghujan dan berdebu pada musim kemarau.

Sementara itu Kepala Desa Kempawa, Ardat Ginting, mengutarakan Jalan penghubung Antar desa diwilayah tenggiring menuju Kuta Buluh sepanjang 12 KM telah lama mengalami kerusakan parah. Kondisi kerusakan jalan ini sudah berlangsung sejak awal tahun 2000. Dibeberapa titik, kondisi jalan berlobang sehingga tergenang pada musim penghujan, dibeberapa titik badan jalan menyempit akibat tergerus air.

” Pada musim penghujan, tebing yang berada disisi jalan sering terjadi longsor. Kita sebagai orang tua juga cemas kalau kondisi hujan anak anak pergi ke sekolah, ada kekhawatiran terjadi longsor,” ungkap Ardat

Ditambahkan Ardat, upaya pemerintah 3 desa di wilayah Tenggiring setiap tahun telah mengusulkan perbaikan jalan penghubung kepada pemerintah kabupaten, namun hingga saat belum mendapatkan tanggapan.

” Ruas jalan yang mengalami kerusakan telah menyeluruh dari Kuta Buluh ke Desa Lauperimbon maupun ke arah desa Kempawa. Kerusakan jalan juga terjadi antara Dusun Lau Sung Sang desa Lau Perimbon hingga ke Desa Kuta Mbaru yang berada di Jalan Negara Antara Kuta Buluh- Kecamatan Tingga Lingga,” Kata Ardat

Pelajar dari 3 desa di wilayah tenggiring yang menempuh pendidikan di SMP Kuta buluh berjumlah 60 orang yakni 8 orang dari desa Kempawa, 10 orang dari desa Kuta Gamber, 19 orang dari Desa Liren serta 23 orang dari Desa Lau Perimbon.

Pelajar SMA yang menempuh pendidikan di SMA Negeri Kuta Buluh berjumlah 35 orang yakni sebanyak 7 orang dari Desa Kempawa, 7 orang dari Desa Lau Perimbon dan 21 orang dari Desa Kuta Gamber. Sedangkan Pelajar yang menempuh pendidikan di SMK 1 Tanah Pinem berasal dari Dusun Lau Sungsang Desa Lauperimbon sebanyak 14 orang. ( Julkifli Sembiring)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *