Desa Seguring, Desa Adat yang Tetap Lestari di Rejang Lebong

Erasatu.id-Di tengah arus modernisasi yang kian deras, Desa Seguring, Kecamatan Curup Utara, Kabupaten Rejang Lebong, tetap teguh mempertahankan adat istiadat yang diwariskan leluhur. Desa ini telah ditetapkan sebagai salah satu desa adat di wilayah tersebut, sebuah status yang mencerminkan kekayaan budaya dan kearifan lokal yang masih dijaga hingga kini.

Keunikan Desa Seguring terletak pada keberadaan rumah-rumah tua yang berusia ratusan tahun. Rumah-rumah ini dihiasi ornamen-ornamen alami yang sarat nilai seni dan filosofi. Meski zaman terus berubah, rumah-rumah adat tersebut tetap berdiri kokoh, menjadi saksi bisu perjalanan waktu sekaligus simbol perlawanan terhadap pengaruh modernisasi yang menggerus identitas budaya di banyak tempat.

Dengan populasi sekitar 1.100 jiwa yang mayoritas berasal dari Suku Rejang, Desa Seguring masih mempraktikkan hukum adat dalam menyelesaikan berbagai perselisihan.

Sistem hukum ini menjadi bagian integral dari kehidupan masyarakat, memastikan keharmonisan tetap terjaga. Selain itu, berbagai acara dan kegiatan di desa ini juga dilakukan berdasarkan tradisi adat, menjadikannya sebagai salah satu desa yang paling setia pada akar budayanya.

Firman Hadi, salah satu tokoh pemuda Desa Seguring, mengungkapkan harapannya agar pemerintah daerah memberikan perhatian lebih kepada desa adat ini. Menurutnya, Desa Seguring memiliki potensi besar untuk menjadi destinasi wisata budaya yang mampu menarik minat wisatawan lokal maupun mancanegara.

“Kami berharap Desa Seguring bisa lebih dikenal luas sehingga adat istiadat yang ada tetap lestari, dan masyarakat di sini juga bisa memperoleh manfaat ekonomi dari pariwisata adat,” ujar Firman.

Dengan pesonanya yang unik dan autentik, Desa Seguring layak menjadi salah satu pusat perhatian dalam pengembangan pariwisata berbasis budaya di Kabupaten Rejang Lebong. Dukungan dari pemerintah daerah dan masyarakat luas sangat dibutuhkan agar desa adat ini tidak hanya menjadi tempat yang indah untuk dikunjungi, tetapi juga menjadi warisan budaya yang lestari untuk generasi mendatang.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *