Daerah  

Kemarau Mulai Ganggu Sawah Rejang Lebong, Petani Diimbau Tunda Tanam

Rejang Lebong, Erasatu.id – Musim kemarau mulai berdampak terhadap ketersediaan air untuk lahan pertanian di Kabupaten Rejang Lebong. Sejumlah areal persawahan yang mengandalkan irigasi mulai mengalami kekurangan air, terutama di Kecamatan Curup Utara dan Padang Ulak Tanding (PUT).

Di Curup Utara, kondisi tersebut terjadi di antaranya di Desa Dusun Sawah, Lubuk Kembang, Batu Panco dan sejumlah wilayah lainnya. Sementara di Kecamatan PUT, kekurangan air terjadi di kawasan persawahan Desa Air Kati dan Tanjung Sanai.

Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Rejang Lebong, Suradi Rifai, mengatakan sejauh ini belum ada laporan gagal panen dari PPL di lapangan. Namun, kemarau mulai berpengaruh terhadap hasil produksi petani.

“Kalau untuk gagal panen, sampai saat ini belum ada laporan dari teman-teman PPL. Hanya saja hasil panennya tidak seperti biasanya,” kata Suradi.

Luas lahan sawah di Kecamatan Curup Utara mencapai sekitar 2.707 hektare, sedangkan di Kecamatan PUT diperkirakan sekitar 900 hingga 1.400 hektare.

Untuk mengantisipasi kekurangan air, Dinas Pertanian telah mengusulkan bantuan mesin pompa air kepada Kementerian Pertanian sebanyak 64 unit. Saat ini usulan tersebut masih menunggu hasil.

Selain kekurangan air, kemarau juga menyebabkan peningkatan serangan penyakit tanaman. Untuk mengantisipasinya, kelompok tani dapat mengajukan bantuan pestisida melalui PPL masing-masing. Suradi menyebut sudah banyak kelompok tani yang mengajukan bantuan tersebut.

Dinas Pertanian juga mengimbau petani menyesuaikan pola tanam dengan kondisi ketersediaan air. Petani yang belum memasuki masa tanam padi disarankan menunda penanaman atau sementara beralih ke komoditas palawija yang lebih hemat air.

Langkah tersebut diharapkan dapat menekan risiko tanaman kekurangan air hingga berujung pada gagal panen jika kemarau berlangsung lebih panjang.

Kondisi ini turut mendapat perhatian DPRD Rejang Lebong. Sekretaris Komisi II DPRD Rejang Lebong, Putra Mas Wigoro, meminta kondisi tersebut diantisipasi sejak dini meski belum ada laporan gagal panen.

“Ketika petani sudah mulai merasakan penurunan hasil produksi, pemerintah jangan menunggu sampai kondisinya semakin parah,” kata Putra Mas.

Ia mendorong Dinas Pertanian memperkuat pemantauan melalui PPL, terutama di wilayah yang mengalami kekurangan air. Usulan bantuan pompa ke pemerintah pusat juga dinilai perlu dikawal agar dapat segera dimanfaatkan apabila disetujui.

“Kalau kondisi air memang belum memungkinkan untuk menanam padi, pilihan menunda tanam atau beralih sementara ke tanaman palawija harus disampaikan secara jelas kepada petani, termasuk komoditas apa yang paling sesuai dengan kondisi wilayahnya,” ujarnya.

Putra Mas juga meminta pendampingan terhadap petani diperkuat, termasuk dalam pengendalian penyakit dan pemenuhan sarana produksi.

“Pemerintah harus hadir memberikan solusi, baik terkait pengairan, bantuan sarana produksi maupun pengendalian serangan penyakit tanaman,” katanya.

Ia berharap langkah antisipasi dilakukan sebelum dampak kemarau berkembang menjadi gagal panen dan mengganggu produksi pangan di Rejang Lebong.(Izk21)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *