Kenapa Pesawat Menabur Garam ke Langit? Begini Cara Kerja Hujan Buatan

ERASATU.ID — Pemandangan pesawat menaburkan bahan tertentu ke langit dalam operasi modifikasi cuaca (OMC) mungkin masih terasa asing bagi sebagian masyarakat. Dari bawah, aktivitas tersebut terlihat sederhana, tetapi sebenarnya ada proses ilmiah di baliknya.

Salah satu bahan yang umum digunakan dalam penyemaian awan adalah natrium klorida (NaCl) atau yang dikenal sebagai garam. Namun, bukan berarti garam yang ditaburkan dari pesawat bisa secara langsung menciptakan awan dan hujan dari langit yang cerah.

Dalam operasi modifikasi cuaca, bahan semai digunakan untuk membantu proses alami pembentukan hujan pada awan yang memang sudah tersedia dan memiliki kondisi yang sesuai. BMKG menjelaskan, NaCl berfungsi sebagai bahan semai untuk membantu proses pembentukan dan pertumbuhan butir air di dalam awan.

Secara sederhana, partikel garam dapat menjadi tempat berkumpulnya air. Ketika masuk ke dalam awan yang memiliki kandungan air dan kelembapan yang cukup, partikel tersebut membantu proses terbentuknya butiran air.

Butiran air yang awalnya sangat kecil kemudian dapat tumbuh melalui proses di dalam awan. Tetes-tetes air dapat saling bertabrakan dan bergabung menjadi lebih besar. Ketika ukurannya semakin besar dan berat, air akhirnya jatuh ke permukaan bumi sebagai hujan.

Karena itu, istilah “hujan buatan” sebenarnya tidak berarti manusia mampu menciptakan hujan dari udara kosong. OMC lebih tepat dipahami sebagai upaya untuk memodifikasi atau memperkuat proses alami yang sudah berlangsung di atmosfer.

Pesawat juga tidak bisa sembarangan menaburkan garam ke setiap awan. Sebelum penerbangan dilakukan, kondisi atmosfer dianalisis untuk mencari awan yang memiliki potensi. Data seperti pertumbuhan awan, arah dan kecepatan angin, kondisi atmosfer hingga kebutuhan wilayah menjadi pertimbangan dalam menentukan sasaran penyemaian.

Pemerintah saat ini menggunakan teknologi tersebut antara lain untuk membantu penanganan kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah Indonesia. Dalam pelaksanaan OMC di Kalimantan Barat pada akhir Agustus hingga awal September 2026, misalnya, pemerintah melakukan sejumlah penerbangan dengan menggunakan ribuan kilogram natrium klorida sebagai bahan semai. Pelaksanaan penerbangan dilakukan berdasarkan analisis kondisi atmosfer dan pertumbuhan awan potensial.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa teknologi modifikasi cuaca bukanlah cara untuk mengendalikan cuaca sepenuhnya. Hasil penyemaian tetap sangat bergantung pada kondisi alam.

Jika tidak terdapat awan yang sesuai, kelembapan tidak mencukupi atau kondisi atmosfer tidak mendukung, penyemaian tidak otomatis menghasilkan hujan.

Hal inilah yang penting dipahami masyarakat agar tidak muncul anggapan bahwa setiap kali pesawat menaburkan garam, hujan pasti akan turun.

Sederhananya, prosesnya dapat dibayangkan seperti ini: awan yang memiliki potensi disemai dengan partikel tertentu, partikel membantu air berkumpul dan membentuk butiran yang lebih besar, kemudian butiran tersebut berkembang hingga akhirnya jatuh sebagai hujan.

Teknologi ini juga menjadi perhatian di tengah kondisi cuaca yang relatif kering dan meningkatnya ancaman karhutla di sejumlah wilayah Indonesia. BMKG dalam prakiraan 8–14 September 2026 masih mencatat kondisi asap di sejumlah wilayah, sementara sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau juga terpantau mencakup sebagian wilayah Bengkulu.

Dengan demikian, ketika masyarakat melihat pesawat melakukan penyemaian awan, aktivitas tersebut bukanlah proses “membuat awan” secara instan. Pesawat membawa bahan semai untuk membantu proses mikrofisika awan, sementara keberhasilan akhirnya tetap ditentukan oleh kondisi atmosfer dan proses alam.

Jadi, garam bukanlah pembuat hujan. Garam hanya menjadi salah satu alat untuk membantu alam mempercepat proses yang memungkinkan hujan turun.(e1)

Exit mobile version