Erasatu – Gunungan merupakan salah satu tradisi budaya yang telah hidup di tengah masyarakat Indonesia selama ratusan tahun. Tradisi ini menjadi bagian dari berbagai perayaan adat, seperti Sedekah Bumi, Bersih Desa, hingga peringatan Tahun Baru Islam atau 1 Muharram di sejumlah daerah. Meski bentuk dan tata cara pelaksanaannya berbeda-beda, esensinya tetap sama, yakni ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rezeki dan hasil bumi.
Gunungan sendiri merupakan susunan aneka hasil pertanian, seperti padi, jagung, cabai, tomat, terong, kacang panjang, singkong, kelapa, pisang, serta berbagai buah dan sayuran lainnya yang dibentuk menyerupai gunung. Dalam pandangan masyarakat Nusantara, gunung melambangkan sumber kehidupan karena menjadi tempat lahirnya mata air, menjaga keseimbangan alam, sekaligus menjadi simbol kemakmuran dan kesuburan.
Sejarawan menyebut tradisi ini telah ada sejak masa kerajaan-kerajaan di Nusantara. Pada masa itu masyarakat menggelar upacara syukur setelah panen sebagai bentuk penghormatan kepada Sang Pencipta atas hasil pertanian yang melimpah. Ketika Islam berkembang di Pulau Jawa dan wilayah lainnya, tradisi tersebut mengalami akulturasi budaya. Nilai-nilai lama tetap dipertahankan, namun pelaksanaannya disesuaikan dengan ajaran Islam melalui doa bersama, pembacaan ayat suci Al-Qur’an, pengajian, dan sedekah kepada masyarakat.
Karena itu, hingga kini tradisi gunungan tidak dimaknai sebagai bentuk persembahan kepada selain Tuhan, melainkan simbol rasa syukur kepada Allah SWT sekaligus media mempererat silaturahmi antarmasyarakat.
Prosesi gunungan biasanya diawali dengan gotong royong warga menyiapkan hasil bumi yang berasal dari kebun atau sawah masing-masing. Seluruh hasil panen kemudian disusun menjadi gunungan yang indah dan dihiasi dengan berbagai hasil pertanian lokal. Setelah selesai, gunungan diarak mengelilingi desa atau menuju lokasi acara yang telah ditentukan, diiringi kesenian tradisional, doa bersama, hingga pertunjukan budaya.
Puncak acara adalah perebutan isi gunungan oleh masyarakat. Bagi orang yang baru pertama kali melihatnya, tradisi ini mungkin tampak seperti berebut sayuran atau buah. Namun di balik itu tersimpan filosofi yang sangat kuat.
Masyarakat meyakini hasil bumi yang telah didoakan membawa keberkahan. Sebagian hasil gunungan dibawa pulang untuk dikonsumsi bersama keluarga, sementara sebagian lainnya disimpan sebagai benih atau diletakkan di sawah dan kebun sebagai simbol harapan agar musim tanam berikutnya menghasilkan panen yang lebih baik.
Tradisi tersebut juga mengajarkan bahwa rezeki harus dibagikan kepada sesama. Tidak ada perbedaan antara kaya dan miskin ketika gunungan diperebutkan. Semua warga memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh hasil bumi sebagai lambang pemerataan rezeki, kebersamaan, serta semangat gotong royong yang telah menjadi ciri khas masyarakat Indonesia sejak dahulu.
Di berbagai daerah, tradisi gunungan memiliki ciri khas masing-masing. Di Yogyakarta dan Surakarta, gunungan identik dengan perayaan Grebeg yang digelar Keraton pada hari-hari besar Islam. Di sejumlah daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur, gunungan menjadi bagian dari Sedekah Bumi atau Bersih Desa sebagai ungkapan syukur atas hasil panen. Sementara di Cirebon, gunungan juga hadir dalam berbagai perayaan adat dan keagamaan yang mencerminkan perpaduan budaya lokal dengan nilai-nilai Islam.
Di Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu, tradisi serupa juga masih dapat dijumpai dalam sejumlah perayaan budaya dan keagamaan di beberapa desa/ kelurahan. Gunungan hasil bumi menjadi salah satu ikon utama yang diarak sebelum akhirnya diperebutkan masyarakat sebagai simbol rasa syukur atas hasil pertanian sekaligus harapan akan keberkahan di masa mendatang.
Keberadaan tradisi ini menunjukkan bahwa nilai-nilai budaya masih hidup di tengah masyarakat Rejang Lebong. Selain menjadi sarana mempererat persaudaraan, tradisi gunungan juga mampu menarik perhatian wisatawan sehingga memberi dampak positif terhadap pelaku UMKM, pedagang lokal, hingga promosi pariwisata daerah.
Di tengah perkembangan zaman, tradisi gunungan menjadi pengingat bahwa kemajuan tidak harus menghilangkan akar budaya. Nilai syukur, gotong royong, kebersamaan, dan kepedulian terhadap sesama tetap relevan untuk diwariskan kepada generasi muda. Melestarikan gunungan bukan hanya menjaga sebuah upacara adat, tetapi juga merawat identitas bangsa yang telah tumbuh selama berabad-abad.
Melalui pelestarian tradisi seperti ini, masyarakat tidak hanya menjaga warisan leluhur, tetapi juga memastikan bahwa nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya akan terus hidup dan dikenal oleh generasi yang akan datang.(*)
