Rejang Lebong, Erasatu.id – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih perlu diwaspadai masyarakat Kabupaten Rejang Lebong di tengah kondisi kemarau yang belum sepenuhnya berakhir.
Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Bengkulu, fenomena El Niño masih berada pada intensitas kuat hingga sangat kuat. Kondisi tersebut membuat musim kemarau berlangsung lebih panjang dan awal musim hujan di Provinsi Bengkulu diperkirakan mundur hingga Dasarian III Oktober 2026.
Kondisi kering tersebut menjadi perhatian karena lahan dan vegetasi yang mengering lebih mudah terbakar. BMKG juga mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan menghindari aktivitas yang dapat memicu munculnya api.
Secara keseluruhan, BMKG mencatat sekitar 125,15 hektare lahan telah terbakar di wilayah Bengkulu sepanjang 2026. Sementara pemantauan hotspot selama Agustus menunjukkan masih terdapat titik panas di sejumlah wilayah provinsi tersebut.
Di Kabupaten Rejang Lebong sendiri, Dinas Pemadam Kebakaran mencatat telah menangani lima kasus kebakaran lahan pada periode Juni hingga Agustus 2026. Kebakaran terjadi di lahan kosong maupun perkebunan warga di sejumlah kecamatan dan menyebabkan kerugian terhadap tanaman masyarakat.
Menyikapi kondisi tersebut, Ketua DPD Partai NasDem Rejang Lebong Putra Mas Wigoro, mengajak masyarakat meningkatkan kewaspadaan dan tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran.
Putra Mas menilai pencegahan harus menjadi perhatian bersama, terutama karena sebagian besar masyarakat Rejang Lebong memiliki aktivitas yang berkaitan dengan lahan pertanian dan perkebunan.
“Kita mengajak seluruh masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar. Jangan sampai kelalaian kecil menimbulkan kebakaran yang merugikan masyarakat dan merusak lingkungan,” pesannya
Selain tidak membakar lahan, masyarakat juga diimbau tidak membakar sampah sembarangan, tidak membuang puntung rokok di lahan kering serta segera melaporkan apabila melihat asap atau titik api.
Menurut Putra Mas, kewaspadaan masyarakat menjadi bagian penting dalam mencegah kebakaran meluas. Pemerintah, petugas pemadam, aparat keamanan dan masyarakat perlu bergerak bersama melakukan pencegahan sejak dini.
“Yang paling penting adalah mencegah. Ketika api sudah membesar, dampaknya bukan hanya terhadap lahan, tetapi juga bisa mengancam keselamatan, kesehatan dan mata pencaharian masyarakat,” imbuhnya.
Sebelumnya, Pemkab Rejang Lebong juga telah mengingatkan masyarakat agar tidak membuka areal pertanian dengan cara membakar. BPBD Rejang Lebong turut menyiagakan personel dan peralatan untuk mengantisipasi potensi karhutla.
Putra Mas mengajak masyarakat menjadikan kondisi kemarau sebagai momentum untuk meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan.
“Mari kita jaga Rejang Lebong bersama. Jangan menunggu terjadi kebakaran baru kita bergerak. Pencegahan adalah tanggung jawab kita bersama,” demikian Putra Mas.(Izk21)
















