Rejang Lebong – Universitas Pat Petulai (UPP) Kabupaten Rejang Lebong menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Dampak Harga Beli Gabah oleh Pemerintah terhadap Keuntungan Petani”. Acara ini berlangsung di Aula Kampus I UPP dengan menghadirkan tiga narasumber, yakni perwakilan akademisi, Dinas Pertanian dan Perikanan Rejang Lebong, serta Perum Bulog Cabang Rejang Lebong.
Rektor UPP, Indrayanto, menjelaskan bahwa FGD ini bertujuan membahas isu-isu strategis yang tengah dihadapi masyarakat, khususnya di bidang pertanian, sejalan dengan program pemerintah.
“Melalui FGD ini, kami ingin memperkuat komunikasi dan kolaborasi dengan para mitra. Harapannya, ke depan akan terjalin kerja sama yang baik demi mendukung kesejahteraan masyarakat, terutama para petani,” ujar Indrayanto usai menyampaikan materinya.
Indrayanto juga menekankan bahwa UPP memiliki sumber daya manusia yang mumpuni, mulai dari profesor, doktor, hingga magister, yang siap memberikan kontribusi jika dibutuhkan.
“Visi dan misi UPP tidak hanya berfokus pada pengembangan mahasiswa dan dosen, tetapi juga masyarakat luas,” tambahnya.
Sementara itu, Asisten Manager Operator Bulog Cabang Rejang Lebong, Vantho Yudistira, mengungkapkan bahwa saat ini pihaknya tidak menyerap gabah secara langsung dari petani, melainkan beras. Meski begitu, harga beli tetap mengacu pada ketetapan pemerintah.
“Sejauh ini, penyerapan beras Bulog Rejang Lebong lebih banyak berasal dari Kabupaten Lebong. Hal ini karena harga jual beras petani di Rejang Lebong umumnya lebih tinggi dibandingkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP),” jelas Vantho.
Vantho memaparkan, sejak Januari hingga Februari 2025, Bulog Rejang Lebong telah merealisasikan penyerapan beras sebanyak 400 ton dari target 543 ton. Sisanya akan dipenuhi pada Maret dan April mendatang.
Di sisi lain, Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Rejang Lebong, Amrul Ebi, mengapresiasi terselenggaranya FGD tersebut. Menurutnya, kegiatan ini menjadi wadah sosialisasi bagi masyarakat terkait kebijakan pertanian, khususnya soal penyerapan gabah dan beras.
Ebi mengakui bahwa petani padi di Rejang Lebong sejak lama lebih terbiasa menjual beras dibandingkan gabah.
“Kami sudah melakukan sosialisasi, tetapi memang ada semacam kebiasaan di sini yang menganggap kurang lazim atau ‘pamali’ menjual gabah. Namun, tadi ada ketertarikan dari KUD Mulya Usaha untuk mulai membuka peluang menjual gabah. Ini bisa menjadi langkah baru agar petani bisa langsung merasakan hasil panennya tanpa harus melalui proses penggilingan,” papar Ebi.
FGD ini dihadiri puluhan peserta dari berbagai kalangan, mulai dari petani, kelompok tani, pengurus KUD, hingga penyuluh pertanian. Mereka berdiskusi aktif, bertukar pikiran tentang solusi dan tantangan terkait harga gabah serta kebijakan pemerintah.(Izk21)
