Erasatu – Bulan Agustus merupakan momen yang sangat penting bagi Bangsa Indonesia, karena tepat 78 tahun yang lalu Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) diproklamasikan sebagai bangsa yang Merdeka.
Namun kemerdekaan ini belum sepenuhnya bisa dinikmati oleh ratusan kepala keluarga Di Desa Kempawa, Desa Kuta Gamber dan Desa Lau Perimbon Kecamatan Taneh Pinem, Kabupaten Dairi, Sumatra Utara terutama kemerdekaan di bidang ekonomi, pasalnya warga 3 desa yang berada di areal perbukitan yang oleh warga sekitar disebut Tenggiring kondisi jalan penghubung antar desa ke kota kecamatan belum tersentuh pembangunan.
Jalan Penghubung dari 3 desa yang berjarak kurang lebih 12 KM ke Kota Kecamatan di Kuta Buluh dipenuhi lubang besar dan dibeberapa bagian mengalami penyempitan akibat longsor sehingga sulit dilalui kendaraan roda 4.
Dampak jalan yang belum tersentuh pembangunan, menyebabkan sektor ekonomi warga cukup terganggu terutama karena tingginya biaya transportasi. Padahal wilayah tenggiring ini memiliki potensi pertanian yang baik terutama untuk tanaman palawija. 3 desa ini pertahunnya menghasilkan tak kurang dari 4000 Ton jagung, 3000 ton kemiri sebagai produksi pertanian utama.
” Untuk Desa Kempawa produksi jagung dalam setahun tidak kurang dari 1600 ton, kemiri 1000 ton, untuk tanaman palawija seperti cabai dan tomat rata rata 100 ton per tahun, produk pertanian lain juga masih cukup banyak yang dihasilkan. Tapi karena kondisi jalan yang rusak biaya transportasi juga cukup tinggi. Untuk 1 kg hasil pertanian kita minimal mengeluarkan biaya transportasi Rp 1000 untuk mencapai pasar. Biaya ini belum termasuk biaya transport dari kebun,” kata Ardat Ginting Kepala Desa Kempawa.
Bahkan pada musim penghujan, hasil produk pertanian wilayah Tenggiring tak jarang harus mengalami kerusakan akibat tidak bisa dibawa ke pasar.
” Kondisi tanah di wilayah kita ini cukup baik untuk tanaman palawija seperti sayur mayur, namun karena kondisi jalan yang rusak tidak banyak petani yang berani menanam. Tanaman palawija ini kan harus cepat dijual kalau sudah dipanen. Di musim penghujan tidak ada kendaraan yang berani melintas, resikonya terlalu tinggi,” Lanjut Ardat
Kerusakan jalan yang terjadi ini juga menjadi tantangan anak-anak untuk bersekolah. Puluhan anak dari 3 desa di wilayah Tenggiring ini harus mengambil resiko terjatuh pada saat mengendarai sepeda motor maupun mobil pada saat berangkat maupun pulang untuk menempuh pendidikan di SMP Negri Kuta Buluh dan SMA Negri Kuta Buluh.
” Kalau musim penghujan anak anak tidak bisa berangkat ke sekolah karena tidak ada kendaraan. Bagi yang menggunakan sepeda motor juga terlalu beresiko terjatuh,” kata Ardat.
Upaya pemerintah 3 desa di wilayah Tenggiring ini mengusulkan pembangunan jalan tersebut kepada pemerintah Kabupaten Dairi sudah dilakukan bertahun tahun namun hingga saat ini belum pernah terealisasi .
” Setiap tahun melalui musyawarah pembangunan tingkat kecamatan sudah kita usulkan untuk perbaikan jalan ini, namun belum ada realisasinya. Perbaikan jalan terakhir kali dilakukan pada tahun 1999 yang lalu, setelah pembangunan tersebut pemerintah kabupaten hanya melakukan tambal sulam di beberapa titik. Kerusakan jalan ini hampir di semua titik sepanjang kurang Lebih 35 KM. Sekarang bekas aspal juga sudah sulit di cari di badan jalan,” Pungkas Ardat
Warga berharap jalan Tenggiring dapat tersentuh pembangunan untuk menunjang aktivitas warga sehari-hari. (Julkifli Sembiring)
