Rejang Lebong – Sebuah temuan mengejutkan baru-baru ini terjadi di Kecamatan Selupu Rejang, Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu. Dua bahan peledak yang diduga kuat merupakan granat peninggalan kolonial Belanda ditemukan oleh warga setempat.
Penemuan ini bukan hanya menjadi perhatian publik, tetapi juga membuka tabir sejarah tersembunyi bahwa kawasan ini dulunya pernah menjadi lokasi latihan militer pada masa penjajahan.
Dalam kurun waktu satu bulan terakhir, dua granat aktif ditemukan di sekitar kebun warga di Selupu Rejang, dari informasi yang dihimpun, lokasi tersebut sebagai area latihan tempur bagi pasukan Belanda.
Granat pertama ditemukan oleh seorang petani yang tengah menggarap lahan sayurnya. Benda logam berkarat itu awalnya dikira hanya besi tua, namun setelah diamati lebih dekat, petani tersebut segera melapor kepada pihak berwajib. Beberapa hari kemudian, granat kedua ditemukan tak jauh dari lokasi penemuan pertama. Tim Gegana segera diterjunkan untuk mengamankan dan menonaktifkan bahan peledak tersebut.
Lebih dari sekadar lokasi bersejarah, Kecamatan Selupu Rejang dikenal luas sebagai sentra pertanian di Provinsi Bengkulu. Berada di dataran tinggi dengan ketinggian rata-rata 964 meter di atas permukaan laut, wilayah ini memiliki tanah yang subur dan iklim yang sejuk, menjadikannya ideal untuk budidaya sayur-mayur. Hampir setiap sudut Selupu Rejang dihiasi kebun sayuran yang hijau, mulai dari tomat, cabai, kol, hingga wortel. Namun, siapa sangka di balik hamparan kebun hijau itu tersimpan peninggalan masa lalu yang kelam?
Secara historis, Selupu Rejang tidak hanya menjadi lokasi latihan militer kolonial, tetapi juga memiliki beberapa jejak peninggalan penjajahan Belanda, diantaranya pabrik perkebunan kopi di Desa Suban Ayam, bekas PLTA di Desa Kampung Baru Pal Batu hingga gudang logistik.
Meski catatan tertulis terkait aktivitas militer di Selupu Rejang masih terbatas, penemuan artefak seperti granat dan mortir memperkuat dugaan bahwa kawasan ini memainkan peran strategis pada era penjajahan. Para ahli menduga bahwa pasukan Belanda menggunakan daerah ini untuk simulasi pertempuran karena letaknya yang terpencil namun memiliki kontur alam yang sesuai untuk latihan militer.
Masyarakat setempat kini diingatkan untuk lebih waspada. Pihak berwenang mengimbau siapa saja yang menemukan benda mencurigakan atau diduga peninggalan perang untuk tidak menyentuhnya dan segera melapor kepada pihak kepolisian agar dapat ditangani secara aman. “Kami meminta warga agar tidak bertindak sendiri. Apapun benda mencurigakan yang ditemukan, segera laporkan kepada kami,” tegas Kasi Humas Polres Rejang Lebong.
Penemuan granat ini menjadi alarm bahwa sejarah tak selalu terkubur bersama waktu. Kadang, jejak masa lalu muncul kembali di hadapan kita, mengajak untuk terus belajar dan memahami warisan sejarah, baik pahit maupun manis. Peristiwa ini juga menjadi pengingat bahwa setiap jengkal tanah yang kita pijak memiliki ceritanya sendiri, yang kadang kala baru terungkap setelah puluhan bahkan ratusan tahun kemudian.
Dengan adanya penemuan ini, diharapkan perhatian terhadap sejarah lokal semakin meningkat. Mungkin masih banyak cerita tersembunyi yang menunggu untuk ditemukan di Selupu Rejang dan daerah-daerah lain di Bengkulu.
Tulisan ini hanya memberikan gambaran informasi tentang jejak sejarah Kecamatan Selupu Rejang Era Kolonial Belanda, tulisan ini dirangkum dari sejumlah sumber.
