Ribuan Warga Dievakuasi Akibat Erupsi Gunung Semeru

Status Tanggap Darurat

Lumajang – Erupsi besar Gunung Semeru pada Rabu (19/11) hingga Kamis (20/11) memaksa ribuan warga di lereng Semeru mengungsi setelah aktivitas vulkanik meningkat drastis. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur mencatat, hingga Kamis siang jumlah warga yang meninggalkan rumah mencapai 1.156 jiwa, tersebar di beberapa titik pengungsian.

Peningkatan jumlah pengungsi ini jauh lebih besar dibanding evakuasi awal yang hanya sekitar 300 orang. Banyak warga dari zona rawan 1 dan 2 memutuskan meninggalkan rumah setelah awan panas guguran dan hujan abu semakin meluas.

BPBD Jawa Timur resmi menetapkan status tanggap darurat selama 7 hari, terhitung 19–25 November 2025.

“Langkah ini untuk memastikan percepatan penanganan, mulai dari logistik, kesehatan, hingga perlindungan bagi kelompok rentan,” kata seorang pejabat BPBD dalam pernyataan resminya.

PVMBG melaporkan bahwa Semeru kembali melepaskan awan panas guguran dengan jarak luncur mencapai 5,5 kilometer ke arah lereng Besuk Kobokan. Sementara kolom abu terpantau naik hingga 2.000 meter di atas puncak gunung.

Hembusan abu pekat menyebabkan beberapa desa seperti Supiturang, Oro-Oro Ombo, dan Penanggal mengalami paparan abu cukup tebal. Warga menyebut suasana sempat gelap pada pagi hari karena abu yang menutupi langit.

“Debunya tebal sekali. Kami langsung lari bersama anak-anak dan lansia. Takut ada susulan,” ujar Salahudin, warga Desa Supiturang.

Evakuasi dilakukan secara bertahap menggunakan kendaraan taktis, ambulans, hingga mobil relawan. Titik pengungsian terbesar saat ini berada di Masjid Ar-Rahmah Oro-Oro Ombo yang menampung lebih dari 500 jiwa. Pengungsian juga dibuka di SD, balai desa, dan gedung serbaguna setempat.

Relawan memberikan bantuan masker, makanan siap saji, selimut, serta pemeriksaan kesehatan ringan bagi warga yang terdampak abu vulkanik.

Petugas gabungan dari TNI, Polri, BPBD, dan relawan terus melakukan penyisiran untuk memastikan tidak ada warga yang tertinggal di zona bahaya, terutama lansia dan keluarga dengan anak kecil.

PVMBG memperingatkan adanya potensi lahar hujan mengingat curah hujan mulai meningkat menjelang akhir tahun. Material vulkanik yang menumpuk di puncak dan alur sungai dapat terbawa aliran air dan menuju permukiman di hilir.

Masyarakat diminta menghindari aktivitas di sekitar bantaran sungai yang berhulu di Semeru.

“Jangan berada di alur sungai mana pun. Lahar bisa datang tiba-tiba dan berbahaya,” kata petugas pemantau.

Selain itu, zona bahaya juga masih diberlakukan dengan rekomendasi agar masyarakat tidak beraktivitas dalam radius minimum 5 km dari puncak dan mewaspadai area aliran sungai di sepanjang Besuk Kobokan.

Hingga berita ini diterbitkan, belum ada laporan korban meninggal dunia. Namun sejumlah warga mengalami gangguan pernapasan ringan dan iritasi mata akibat paparan abu.

Pemerintah daerah bersama BNPB menegaskan bahwa bantuan logistik mencukupi untuk beberapa hari ke depan, namun distribusi tetap akan dioptimalkan mengingat lonjakan jumlah pengungsi.(An)

Exit mobile version