Daerah  

Bupati Rejang Lebong Jenguk Pasien Hemodialisa di RS M. Yunus Bengkulu

Bengkulu – Bupati Rejang Lebong, H. Muhammad Fikri, menjenguk langsung pasien Hemodialisa (HD) RSUD Rejang Lebong yang saat ini dirujuk dan menjalani perawatan di Rumah Sakit M. Yunus Bengkulu, Jumat malam (19/7/2025).

Kunjungan tersebut dilakukan sebagai bentuk perhatian dan dukungan moril kepada para pasien cuci darah yang terdampak penghentian sementara layanan Hemodialisa di RSUD Rejang Lebong akibat kendala teknis.

Bupati Fikri menyempatkan diri menemui satu per satu pasien yang tengah menjalani proses cuci darah di ruang Hemodialisa RS M. Yunus. Dalam kunjungannya, Bupati juga menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang dialami pasien dan keluarga.

“Malam ini kami menjenguk langsung pasien Hemodialisa RSUD Rejang Lebong yang untuk sementara waktu mendapatkan layanan di RSUD M. Yunus Bengkulu. Malam ini ada 11 pasien yang dirujuk dan Alhamdulillah semua dalam kondisi sehat,” kata Bupati.

Ia juga menjelaskan bahwa saat ini pihak RSUD Rejang Lebong tengah berupaya secara maksimal agar layanan Hemodialisa bisa segera kembali berjalan normal di Rejang Lebong. Dalam masa transisi ini, pemerintah daerah telah menyiapkan sejumlah fasilitas pendukung.

“Kita siapkan kendaraan antar jemput dari Curup ke Bengkulu untuk pasien dan keluarga. Jika ada yang ingin beristirahat setelah perjalanan jauh, kami juga telah menyiapkan penginapan di Mes Pemkab Rejang Lebong yang jaraknya sekitar 100 meter dari RS M. Yunus,” jelasnya.

Tak lupa, Bupati Fikri menyampaikan apresiasi kepada Gubernur Bengkulu dan Direktur RSUD M. Yunus, dr. Heri, atas kerja sama dan bantuan yang diberikan dalam penanganan pasien Hemodialisa dari Rejang Lebong.

“Atas nama Pemerintah Kabupaten Rejang Lebong, saya mengucapkan terima kasih kepada Bapak Gubernur dan Direktur RSUD M. Yunus yang telah membantu dan memfasilitasi pasien-pasien kami selama proses ini berlangsung,” pungkasnya.

Sebelumnya, layanan Hemodialisa di RSUD Rejang Lebong dihentikan sementara karena kehabisan bahan habis pakai (BHP). Penghentian layanan ini sempat membuat panik para pasien dan keluarga, karena pasien diminta mencari rumah sakit rujukan secara mandiri dalam waktu singkat.(Izk21)

Exit mobile version